Aceh Juara II TTG Nasional XIV

Provinsi Aceh kembali menoreh prestasi dalam Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional XIV yang diselenggarakan di Kota Batam, Kepulauan Riau, 11-14 Oktober 2012. Tahun ini Aceh meraih juara II tingkat nasional.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Aceh, Bukhari AKs MM didampingi stafnya Fachrur Razi dalam siaran pers yang diterima Serambi kemarin mengatakan, prestasi Aceh tahun ini diraih berkat alat TTG yang ditemukan oleh dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr Ir Abdullah MSc. Continue reading Aceh Juara II TTG Nasional XIV

Ayat-ayat al-Qur’an tentang Kelestarian Lingkungan

  1. Surat Ar Rum [30] ayat 41-42 tentang Larangan Membuat Kerusakan di Muka Bumi

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanandimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)
Isi kandungan
Selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.
Keserakahan dan perlakuan buruk sebagian manusia terhadap alam dapat menyengsarakan manusia itu sendiri. Tanah longsor, banjir, kekeringan, tata ruang daerah yang tidak karuan dan udara serta air yang tercemar adalah buah kelakuan manusia yang justru merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Islam mengajarkan agar umat manusia senantiasa menjaga lingkungan. Hal ini seringkali tercermin dalam beberapa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam haji, umat Islam dilarang menebang pohon-pohon dan membunuh binatang. Apabila larangan itu dilanggar maka ia berdosa dan diharuskan membayar denda (dam). Lebih dari itu Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi
Tentang memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, banyak upaya yang bisa dilakukan, misalnya rehabilitasi SDA berupa hutan, tanah dan air yang rusak perlu ditingkatkan lagi. Dalam lingkungan ini program penyelamatan hutan, tanah dan air perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.

  1. Surah Al A’raf [7] Ayat 56-58 tentang Peduli Lingkungan

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58)
Isi Kandungan :
Bumi sebagai tempat tinggal dan tempat hidup manusia dan makhluk Allah lainnya sudah dijadikan Allah dengan penuh rahmat-Nya. Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain semua itu diciptakan Allah untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakan
Hanya saja ada sebagian kaum yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa materi atau benda, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi keburukan tersebut sering kali mereka menganggap diri mereka sebagai kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di muka bumi
Allah SWT melarang umat manusia berbuat kerusakan dimuka bumi karena Dia telah menjadikan manusia sebagai khalifahnya. Larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang, termasuk dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan sumber-sumber penghidupan orang lain (lihat QS Al Qasas : 4).
Allah menegasakan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan kepada hamba-Nya ialah Dia menggerakkan angin sebagai tanda kedatangan rahmat-Nya. Angin yang membawa awan tebal, dihalau ke negeri yang kering dan telah rusak tanamannya karena tidak ada air, sumur yang menjadi kering karena tidak ada hujan, dan kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu Dia menurunkan hujan yang lebat di negeri itu sehingga negeri yang hampir mati tersebut menjadi subur kembali dan penuh berisi air. Dengan demikian, Dia telah menghidupkan penduduk tersebut dengan penuh kecukupan dan hasil tanaman-tanaman yang berlimpah ruah.

  1. Surat Sad [38] Ayat 27 tentang Perbedaan Amalan Orang Beriman dengan Orang Kafir

Artinya : “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS Sad : 27 )
Isi kandungan
Allah SWT menjelaskan bahwa dia menjadikan langit, bumi dan makhluk apa saja yang berada diantaranya tidak sia-sia. Langit dengan segala bintang yang menghiasi, matahari yang memancarkan sinarnya di waktu siang, dan bulan yang menampakkan bentuknya yang berubah-ubah dari malam kemalam serta bumi tempat tinggal manusia, baik yang tampak dipermukaannya maupun yang tersimpan didalamnya, sangat besar artinya bagi kehidupan manusia. Kesemuanya itu diciptakan Allah atas kekuasaan dan kehendak-Nya sebagai rahmat yang tak ternilai harganya.
Allah memberikan pertanyaan pada manusia. Apakah sama orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat? Allah SWT menjelaskan bahwa diantara kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hamba-Nya yang melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya dengan segala keagungan-Nya, menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.
Mereka ini tidak mau mengikuti keesaan Allah, kebenaran wahyu, terjadinya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya. Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya.
Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini sehingga wajib untuk menjaga apa yang telah dikaruniakan Allah SWT.

dikutip di http://rizkabahrul.blogspot.com

1.000 Obor Tsunami Aceh untuk Dunia

BANDA ACEH – Ribuan orang melakukan pawai obor di Kota Banda Aceh untuk mengenang 10 tahun gempa dan tsunami yang menerjang pesisir Aceh dan Samudera Hindia. Mereka juga menggelar renungan atas bencana yang merenggut 200 ribu jiwa itu.

Peserta pawai berasal dari berbagai kalangan dan komunitas anak muda, para siswa di Banda Aceh, hingga mahasiswa perwakilan PMI korps perguruan tinggi se-Indonesia. Perwakilan dari Palang Merah Internasional (ICRC) serta duta Palang Merah bebeberapa negara seperti Jepang, Kanada, Australia, Singapura juga ikut serta.

1.000 Obor Tsunami Aceh untuk Dunia Pawai bertajuk Dari Aceh untuk Dunia dimulai dari depan Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, pada Minggu malam. Masjid ini dipilih karena saat tsunami menerjang hanya bangunan ini yang tersisa di bibir Pantai Ulee Lheu.

Sambil membawa 1.000 obor, peserta longmars dengan tertib menelusuri Jalan Iskandar Muda sepanjang 5 kilometer hingga berakhir di Lapangan Blang Padang. Di lapangan yang bertabur prasasti ucapan terima kasih kepada negara-negara yang sudah membantu Aceh saat tsunami ini, mereka menggelar renungan disertai tausyiah agama.

Aksi yang digelar Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah itu dikawal ketat petugas kepolisian dan menjadi perhatian warga kota. “Malam hari ini kami mengenang kembali detik-detik yang paling kami ingat dan telah menjadi perhatian dunia, yaitu bencana tsunami pada 26 Desember 2004,” kata Ketua Bidang Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Muhammad Muas, dalam sambutannya.

Menurutnya, tsunami yang merenggut banyak nyawa tersebut tak perlu lagi ditangisi. Tetapi, ia mengajak semua masyarakat untuk terus menatap masa depan dan berbuat terbaik serta menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana. “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak dan Negara-negara di dunia yang sudah membantu Aceh saat tsunami,” tukas Ketua PMI Aceh, Teuku Alaidinsyah.

Sekretaris Daerah Aceh, Darmawan, di sela melepaskan peserta pawai obor mengatakan bahwa momentum 10 tahun tsunami harus dijadikan sebagai kampanye dalam meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. “Mari sama-sama kita saling menjaga lingkungan,” ujarnya.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal menyebutkan, bencana tsunami Aceh harus dijadikan pembelajaran bagi semua manusia. Tsunami, kata dia, bukan sekadar bencana tapi juga menjadi ajang pemersatu bangsa-bangsa di dunia.

Saat Aceh dilanda tsunami 10 tahun lalu, kisah Illiza, bangsa-bangsa di dunia menunjukkan solidaritasnya. “Tanpa membedakan ras, suku, agama mereka sama-sama bergerak membantu Aceh,” ujarnya.

Sementara seorang peserta pawai, Fakhrizan Mahyeddin Joely, berharap renungan atau mengenang peristiwa tsunami jangan digelar sebatas simbolis, tapi juga penting dibangun komitmen bersama untuk siaga bencana.

Menurutnya, Aceh dan Indonesia berada di jalur cincin api yang rentan bencana, sehingga masyarakat harus didorong bisa bersahabat dengan bencana. “Harusnya pemerintah perlu membuat sosiasisasi tentang bencana ini setiap bulan,” kata Fakhrizan.

(ris)

dikutip http://news.okezone.com/

Jangan Pakai Kantong Plastik Warna Hitam Untuk Kemas Daging Kurban

Banda Aceh. Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kota Banda Aceh melakukan pemantauan ke sejumlah penjualan hewan kurban di Kota Banda Aceh untuk memastikan kesehatan dan kelayakan hewan kurban yang dijual. Selain memantau kondisi kesehatan hewan kurban, Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kota Banda Aceh juga meminta agar daging hewan kurban yang didistribusikan jangan dikemas dengan plastik berwana hitam.

“Kami meminta agar daging kurban nanti tidak dibungkus kantong plastik hitam sebab kemasan plastik dengan warna yang dimaksud tadi rentan terkontaminasi zat kimia,” kata Kepala Seksi Peternakan Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kota Banda Aceh, drh. Rita Zahara di Kantor DKPP Banda Aceh Gampong Pande,Jumat (03/10).

Rita Zahara meminta, agar daging hewan kurban dikemas dengan plastik warna putih dan tidak mencampur daging dengan organ dalam. “Hal ini penting untuk menghindarkan agar tidak sampai tercemar. Jadi, kalau memang ada bagian organ dalam yang ikut didistribusikan, sebaiknya dipisahkan dalam kantong plastik lain,” katanya.

Selanjutnya, tambah Rita Zahara, daging kurban juga jangan disimpan terlalu lama untuk didistribusikan. “Jangan sampai lewat empat jam sebab jika lewat dari masa tersebut, maka daging kurban sudah masuk dalam tahap proses pembusukan,” ujarnya. Menurutnya, jika panitia kekurangan petugas khusus untuk membagikan hewan kurban sebaiknya penyembelihan dilakukan secara bertahap.

“Atau jika mungkin panitia bisa memanfaatkan atau menggunakan boks berisi es batu sebagai pendingin untuk menjaga keawetan dari daging kurban tersebut,” ucapnya.

Pemantauan dan pengecekan yang dilakukan Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kota Banda Aceh untuk memastikan apakah ada indikasi serangan antrax terhadap hewan kurban yang ada di Kota Banda Aceh. “Hasilnya memang nihil,” ujarnya. namun, Rita Zahara meminta masyarakat jika ingin membeli hewan kurban agar bisa memilih penjual yang memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kota banda Aceh, lanjutnya, akan tetap memantau beberapa titik lokasi pemotongan pada hari “tasyrik” atau tiga hari setelah Idul Adha untuk melihat kondisi kesehatan hewan, khususnya pada bagian organ dalam. “Tujuannya untuk memastikan kesehatan hewan kurban,” pungkasnya.

dikutip : http://www.dakwatuna.com

UU Kelautan mendesak atasi tumpang tindih kewenangan

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo menegaskan Indonesia harus segera memiliki Undang-Undang Kelautan untuk menyelesaikan tumpang tindih kewenangan yang kerap terjadi di sektor tersebut.

“Bangsa Indonesia dituntut untuk segera memiliki Undang-Undang Kelautan sebagai payung hukum bagi pengaturan laut secara terpadu,” kata Sharif Cicip Sutardjo di Jakarta, Senin.

Menurut Sharif, keberadaan UU Kelautan itu nantinya juga tidak akan mengabaikan peraturan perundang-undangan atau beragam aturan yang telah ada saat ini.

Ia berpendapat, RUU Kelautan mendesak diundangkan karena bisa menjadi harapan bagi bangsa Indonesia untuk membuktikan diri sebagai bangsa maritim.

“Indonesia memang harus segera memiliki UU Kelautan. Prinsip ini didasarkan pada kenyataan, bahwa saat ini telah ada berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur aspek laut. Namun substansi materi dalam peraturan tersebut justru terbagi-bagi sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor,” katanya.

Akibatnya, ujar dia, berbagai peraturan perundangan tersebut seolah beradu kuat dalam implementasinya sehingga terkesan pemerintah kurang tegas karena dalam pelaksanaan di lapangan terjadi tumpang tindih kewenangan antar instansi yang menangani bidang kelautan.

Saat ini, RUU Kelautan telah masuk dalam Program Legislasi Nasional tahun 2013 dan menjadi inisiatif DPR, sedangkan penyiapan bahan naskah akademik, batang tubuh dan penjelasannya oleh Dewan Perwakilan Daerah didukung Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN).

Sebelumnya, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) juga telah meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan DPR RI segera membahas RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan guna menyejahterakan nelayan.

“Dari konsultasi publik yang dilakukan FAO (Badan Pertanian Pangan PBB) di Indonesia telah menghasilkan dua poin rumusan perlindungan nelayan tradisional,” kata Sekjen Kiara, Abdul Halim.

Menurut dia, dua rumusan tersebut antara lain adalah pemenuhan hak-hak warga negara sebagaimana hak asasi manusia dalam hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan hak untuk berbudaya.

Rumusan kedua adalah pedoman perlindungan nelayan tradisional harus mencakup hak-hak nelayan tradisional yang telah dirumuskan melalui instrumen perlindungan nelayan.

Prospek perlindungan nelayan tradisional di Indonesia, ujar dia, mendapatkan momentum penting pada 16 Juni 2011 ketika Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan aturan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) yang menjadi instrumen kebijakan privatisasi dan komersialisasi perairan pesisir yang terkandung dalam UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Selain itu, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menginginkan adanya Peraturan Presiden (Perpres) terkait pemberdayaan nelayan yang lebih kuat dan tegas dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat pesisir di Tanah Air.

“Berdasarkan UU No 31/2004 tentang Perikanan, pemerintah seharusnya mengeluarkan Peraturan Pemerintah untuk memberdayakan nelayan-nelayan kecil,” kata Pembina KNTI Riza Damanik.